HATI  NURANI

       Malam ini salah satu TV swasta nasional membahas tentang “Presiden tagih hutang Lapindo”, tokoh – tokoh politik, anggota DPR, Budayawan, pengamat  ekonomi, korban Lapindo, dan management Lapindonya sendiri, mereka beradu argument dengan mengelak menggunakan bahasa bahasa diplomatis yang dibungkus dengan  kesan seolah tak bersalah, pada stasiun swasta lainnya pun membahas  tentang “parpol setengah hati” nyaris tayangan malam ini mempertontonkan budaya cuci tangan para politikus, koruptor, dan manusia manusia yang tak punya hati, mau dibawa kemana bangsa ini kalo kalangan elitnya saja sudah tak punya hati nurani” celetuk ayah dari anak anakku sambil terus mendengarkan debat kusir yang dipandu Karni Ilyas. “Katanya partai bersih, bebas korupsi dan menolak gratifikasi,eh ternyata   malah  ketangkap, …masyaAllah kemana norma Islamnya, kemana dakwah yang sering dikumandangkan, mengapa begitu mudah terpesona dengan nikmatnya dunia, kemana akalnya, apakah ini pertanda matinya hati nuran?” Sang ayah merepet gak ketahuan ujungnya, sebagai warga Negara ada perasaan geram dihatinya melihat begitu banyak permainan permainan kotor yang dengan bangga dipertontonkan manusia  yang hilang rasa malunya.

“Bunda…hati nurani itu apa sich” tanya sibungsu padaku, wajahnya berharap aku menjawabnya dengan cepat karena ia sudah tak sabar ingin mendengar bahasa – bahasa sang ayah selanjutnya.

“Dede, aku lagi sibuk, boleh gak tanya sama ayah apa arti hati nurani, ok! “perintahku, sebenarnya aku bisa saja menjawabnya tetapi saat itu aku sedang menyiapkan makan malam keluarga yang semuanya baru aku masak saat itu dan harus selesai secepatnya karena waktu sudah menunjukan pukul 21.05 wib keburu pada ngantuk, kulihat wajah tidak puasnya sambil memegang  remote ac, ia berjalan masuk kedalam  kamarnya dan menutup pintu kamar dengan agak keras sambil berkata” ternyata bunda  juga nggak punya hati nurani”. Waduh…? Aku kaget dan langsung mematikan kompor gas jadul hadiah ultah ke 35 dari suamiku dan bergegas menghampirinya.

“Dede, koq ngomong kayak gitu, memangnya dede tahu apa itu hati nurani?” ujarku dengan sedikit membesarkan mata ini.

“karna aku gak tau maka aku nanya, bunda malah sibuk sama makanannya ayah.”

“Kan aku sudah bilang tanya sama ayah, kenapa kamu ngga nanya ayah?”

“Orang aku mau nanya sama bunda”

“Ya udah, geser dikit dong, kalo kamu mau tau apa itu hati nurani sekarang bunda  jelaskan  menurut bahasa, kata nurani berasal dari kata nuurun dan ainii  berarti cahaya mata saya. Menurut Istilah, yaitu partikel kecil (microchip) hidayah yang diamanatkan oleh Allah. Dengannya secara fitrah, manusia bisa mengenali dirinya dan Tuhannya. Mengetahui yang benar dan yang salah.

Seperti sabda Rasulullah Saw , “Mintalah fatwa dari hati nurani kita, kebenaran adalah apabila nurani dan jiwamu tenang terhadapnya sementara dosa apabila hati mu gelisah” (HR.Ahmad). Artinya, nurani kita akan menolak saat kita hendak melakukan perbuatan dosa sekecil apapun.”

“Kayak lagunya Aa Gim dong” celetuk putri kecilku sambil menyanyikan beberapa bait liriknya.

jagalah hati… jangan kau kotori…

jagalah hati… lentera hidup ini…

Jagalah hati…  jangan kau nodai…

Jagalah hati cahaya Illahi…”

Sebuah potongan lirik nasyid yang indah dan sangat menyentuh, membuat diriku tersadar betapa pentingnya menjaga hati nurani. Sangat pas untuk direnungi di tengah kondisi negeri ini. Saat kemaksiatan semakin merajalela, pembunuhan dan bunuh diri tidak lagi asing di telinga. Saat ekonomi belum juga mampu mewujudkan kesejahteraan rakyat, karena ia hanya menjadi eksploitasi bisnis demi keuntungan pribadi dan kelompok. Ketika kemiskinan dan kesejahteraan hanya menjadi bahan seminar dan diskusi karena belum menyentuh keberpihakan pada rakyat yang menderita. Pemerkosaan yang berada disekitar lingkungan terkecil, seorang ayah memperkosa anak kandungnya, akibat kebutuhan biologis yang tidak diberikan sang istri yang sibuk bekerja lantaran faktor ekonomi, remaja – remaja yang semakin brutal mencari jati dirinnya dengan cara yang salah dan sangat menyimpang dari ajaran Islam, Politik sangat jauh dari aspirasi rakyat. Kasus-kasus korupsi yang menimpa negeri ini adalah bagian dari fenomena telah lemahnya nurani bahkan terkesan mati.

“Bun, apakah aku punya hati nurani?” tanya putri keduaku

“Tergantung” Jawabku singkat

“Loh koq tergantung sih” balasnya

“ Orang yang mempunyai hati nurani, biasanya lebih peka terhadap suatu hal  dan biasanya bersifat social spiritual, contohnya kalo liat rumahnya berantakan langsung diberesin, kalo liat piring kotor langsung dicuci, kalo liat pengemis rasa simpati dan empatinya tumbuh, kalo liat temen yang sedih dan susah dibantu dan dihibur, dan yang paling penting nih kalo waktunya sholat langsung sholat”

“ Wah..gue banget tuh”teriak sang kakak dari dapur sambil membersihkan piring piring kotor.

“wuueeek…wuuueek..” gaya orang yang mau muntah di peragakan sang adik ketika mendengar seloroh kakak perempuannya, “ ngga nyadar kakak nih,iih..”

“Emang iya, akukan seperti apa kata bunda. Beberes rumah aku kerjaiin, nyuci piring…iya, ngasih uang ke pengemis juga iya, kalo si Marfuah sedih diledekin teman-teman akulah yang membelanya”

“Iya tapi giliran waktu sholat, bunda harus teriak dulukan?” timpal sibungsu

“Yah, kalo itu sih sebenarnya memang aku sengajain, biar bunda pahalanya lebih besar saja, kan seorang ibu tidak boleh bosen untuk mengingatkan dan menanamkan kebajikan pada anak – anaknya, itupun kalo sang ibu mau masuk surge”kilahnya.

Mmhh,….ada saja bahasa anak anak jaman sekarang kalo debat sama orang tuanya, mereka berpikir orang tua mempunyai kewajiban yang besar dalam mendidik putra putrinya, padahal itu semua tidak akan berjalan sukses bila keduanya tidak saling bersinergi untuk menggapai mahabbah Illahi.

“Bunda…seberapa pentingnya hati nurani bagi seorang manusia seperti kita”

“Subhanllah…sangat penting dek, Semua kejadian bisa diingat oleh hati nurani, karena hati nuranilah yang kelak akan menjadi saksi di hadapan Allah, seperti Firman Allah: “Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada” (QS. al-Adiyat: 9 -10). Jadi, hati nurani memiliki nuur (ber-cahaya), tidak menyilaukan tapi memberi penerangan sebagai petunjuk. Oleh karena itu, ketika hati nurani dibelenggu hawa nafsu, hati nurani bisa kehilangan ruh-nya, cahayanya semakin pudar sehingga pada akhirnya tidak dapat membedakan halal dan haram. Dalam keadaan seperti itu, manusia disebut buta yang sebenar-benarnya karena mata jika tertutup menjadi gelap tidak tahu halal dan haram. Orang yang secara lahiriyah tidak dapat melihat tapi mata hatinya bening maka ia lebih baik dari orang yang buta mata hati. Oleh karena itu buta yang sebenarnya adalah buta adalah buta mata hati (hati nurani) bukan buta mata kepala, coba kakak  lihat  QS. al-Hajj [22]: 46).” Jelasku panjang lebar.

“Kalo gitu ayah punya hati nurani dong, liat aja kalo ayah mau makan pasti ikan guramenya dulu yang dikasi makan, pohon – pohonnya disirami baru tuh ayah makan” kembali sibungsu berkomentar, dan aku hanya tersenyum sambil berpikir, bahwa ternyata benar apa yang dikatakan putri kecilku.

Sebenarnya Nurani ada dalam ranah spiritual, kematian nurani merupakan krisis spiritual. Semua ini bermuara pada semakin lemahnya kecenderungan dan kemampuan manusia dalam mengenal Tuhannya dengan segala perintah dan larangan-Nya. Dalam bahasa sederhana, bisa dikatakan sebagai proses lemahnya iman kepada Tuhan. Inilah sebenarnya pemasalahan kita semua yang telah melahirkan berbagai krisis. Iman adalah kata kunci dalam setiap permasalahan nurani dan spritualitas. Karena iman bagi spritualitas adalah ibarat air bagi tanaman. Sementara spiritualitas yang sehat dengan iman yang kuat dan benar akan menghidupkan nurani.

“ Andai setiap orang mempunyai keimanan yang tinggi…” desahku

“Tapi Iman yang bagaimana?”  Tanyaku dalam hati tentu saja bukan sekadar mengimani bahwa Tuhan itu ada. Iman dalam arti taat dan patuh pada tuntunan Allah dan Rasul-Nya dan bisa menjadi kontrol bagi perilakunya. Rasulullah Saw bersabda, “Apabila Allah mencintai seseorang hamba, Dia menjadikan baginya pemberi nasehat dari jiwanya dan pengingat dari hatinya yang memerintahnya dan melarangnya” (HR. Ahmad). Itulah nurani yang hidup dengan iman. Iman akan tetap terjaga dalam hati dengan menghidupkan rasa muraqabatullah (perasaan selalu diawasi Allah). Sebuah rasa yang lahir dari keyakinan bahwa tidak ada satupun di alam semesta ini yang luput dari ilmu Allah. “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tidak ada (pembicaraan antara) lima orang melainkan Dia-lah yang keenam” (QS.Al-Mujaadalah: 7)…Allahu Akbar ternyata disetiap peristiwa ada saja makna yang tersirat yang diberikan Allah SWT agar kita dapat berpikir dan mengetahui bahwa segalanya sudah di atur olehNya dengan maksud – maksud yang manusia tidak pernah menyadarinya.

Makan malam saat itu menjadi makan malam yang syahdu, ketika setiap diri berpikir apakah diri ini  masih punya hati nurani? Setidaknya untuk mengatakan bahwa makanan ini enak sekali, atau sekedar menyuci  piring – piring kotor, atau mungkin berharap esok pagi tak terdengar suara lengkingan Ndoro Putri ketika  azan subuh menyapa.

Aside  —  Posted: February 21, 2013 in Uncategorized

Guru Sebagai Pribadi Kunci

Posted: January 22, 2013 in Uncategorized

GURU SEBAGAI PRIBADI KUNCI

 

Hujan deras tadi malam menyisakan dampaknya pagi ini, beberapa ruas jalan macet, tumpukan sampah dan plastic menghiasi jalan yang selalu kulewati ketika akan berangkat ke sekolah tempat aku mengajarkan ilmu kepada anak-anak didik kesayanganku calon anak bangsa yang berkepribadian Pancasila dan berakhlakul karimah. Sungguh ada perasaan rindu yang dalam ketika seminggu tak bertemu, rasanya lama sekali demikian pula mereka,  merasakan hal yang sama ketika suatu kesempatan aku ceritakan rasa rindu ini dan merekapun berteriak keras seolah rasa itu bukan milik bunda gurunya saja….wooow bahagianya menjadi kecintaan mereka, bahagianya menjadi teman curhatnya, bahagianya menjadi bagian dari geng kecil mereka dan bahagianya dapat duduk makan bersama mencicipi makanan yang sesudah dimakan pasti tenggorokannya langsung bermasalah. Dunia mereka polos tanpa basa basi, lepas tanpa ekspresi, jujur tanpa narasi, dan aku menyayangi mereka  tanpa beban.

Sengaja kutulis blog ini dengan judul “Guru sebagai Pribadi Kunci” karena secara keseluruhan guru adalah figur yang menarik perhatian semua orang, entah dalam keluarga, dalam masyarakat, atau dalam instansi sekolah. Apapun istilah yang dikedepankan tentang figure guru, yang pasti semua itu merupakan penghargaan yang diberikan terhadap jasa guru yang banyak mendidik umat manusia dari dulu hingga sekarang.

Masyarakat melihat figure guru sebagai manusia serba bisa tanpa cela dan nista, mereka melihat figure guru  sebagai figure yang kharismatik. Kemulian seorang guru tercermin dari kepribadian sebagai manifestasi dari sikap dan perilaku kehidupan sehari – hari. Oleh karena itu apabila ada sedikit cela dan nista dari pribadi guru, maka masyarakat akan mencaci makinya habis – habisan dan hilanglah wibawa guru seketika.

“Assalamuallaikum dan selamat pagi anak – anak”

“Waalaikum salam bunda”

“Apa kabarmu ?”

Alhamdulilah luar biasa Allahu akbar” teriak murid muridku dengan semangat

“Alhamdulilah…sungguh luar biasa, bundapun demikian”

“Ayo siapa yang tadi malam belajar?” tanyaku sambil melempar pandangan ke seluruh ruangan.

“ Loh koq ga ada yang ancung tangannya”

“Gimana mau belajar bunda, orang gak ada bukunya?”

“ Koq bisa..?”

“Iya bun, kmrn  Ella udah nanya sama Bu Ipah tapi kata Bu Ipah ntar dikasi tau kalo bukunya dah sampe, padahal ini udah lama banget, orang tua saya juga nanyain koq gak disuruh bayar buku, kan uangnya dah ada, kemarin kita  dikejar kejar suruh bayar buku sekarang malah  kita yang kejar- kejar buku, parah banget dah !”

“Yah sudah nanti bunda tanyakan ke kepala sekolah, “ sahutku untuk menenangkan perasaan mereka yang sedang gundah gulana.

“Bu, maaf apakah bidang study ibu sudah ada bukunya?”tanyaku dengan nada yang pelan, namun entah kenapa sang guru tadi hanya tersenyum sambil mengatakan “no coment deh bun” waduh, hal ini membuat aku  semakin bingung ada apa ini, dan usut punya usut ternyata semester kemarin dana buku tidak dapat dipertanggung jawabkan oleh seorang oknum yang akhirnya membuat beberapa penerbit tidak mau lagi menawarkan bukunya kepada pihak sekolah. Ironis sekali, salah siapa ini?

Mudah – mudahan ini tidak menimpa sekolah sekolah yang lain,  Bagaimana proses belajar mengajar akan berlangsung sukses apabila media buku sebagai salah satu sumber pedoman kegiatan belajar mengajar kita tidak punya. Kejujuran, bertanggung jawab dan perhatian hendaklah dimiliki oleh tenaga pendidik , seperti apakah pendidik yang baik dan disayangi anak didiknya ternyata survey yang aku lakukan menemukan beberapa hal yaitu :

  1. Suka menolong pekerjaan sekolah dan menerangkan secara sistimatis
  2. Periang dan gembira
  3. Bersahabat
  4. Perhatian dan memahami anak didiknya
  5. Mengajar dengan cinta dan tulus ikhlas
  6. Tegas
  7. Tidak pilih kasih
  8. Tidak suka mencela, mengomel, dan menghina
  9. Mempunyai pribadi yang dapat dicontoh
  10. Memberikan oleh – oleh pendidikan yang bermanfaat

Lantas guru yang bagaimanakah yang tidak disukainya? Itu adalah kebalikan dari sepuluh point di atas. Guru dan anak didik berada dalam suatu relasi kejiwaan. Keduanya berada dalam proses interaksi edukatif dengan tugas dan peranan yang berbeda. Guru yang mengajar dan mendidik dan anak didik yang belajar dengan menerima bahan pelajaran dari guru, guru dan anak didik keduanya berada dalam koridor kebaikan.

Oleh karena itu walaupun mereka berlainan secara  fisik dan mental, tetapi mereka tetap seiring dan setujuan untuk mencapai kebaikan akhlak ,kebaikan moral,kebaikan hukum ,kebaikan sosial,dan sebagainya. Mengajar adalah transfer of knowledge kepada anak didik dan selalu berlangsung dalam suatu kondisi yang disengaja untuk menciptakan, mengantarkan anak didik kearah kemajuan dan kebaikan.

Mengajar hanya sebatas menuangkan sejumlah bahan pelajaran kepada anak didik dikelas atau diruangan tertentu sedangkan mendidik adalah suatu usaha yang disengaja untuk membimbing dan membina anak didik agar menjadi manusia yang cakap, aktif, kreatif,dan mandiri. Guru adalah spiritual father bagi anak didik. Kebaikan hati anak didik adalah sebagai manisfetasi dari kebaikan pengajaran dan pendidikan yang diberikan oleh guru . Sekolah sebagai panti rehabilitasi anak merupakan laboratorium keilmuan bagi guru dalam mengajar dan membelajarkan anak didik dalam perspektif keilmuan. Ditempat ini anak didik belajar bebas terpimpin, aktif, kreatif,dan mandiri dibawah bimbingan dan pengawasan yang mulia dari seorang guru.

Penyebab utama dari kegagalan seorang guru dalam menjalankan tugas mengajar didepan kelas adalah kedangkalan pengetahuan guru terhadap siapa anak didik dan bagaimana cara belajarnya, sehingga setiap tindakan pembelajaran yang diprogramkan justru lebih banyak kesalahan daripada kebenaran dari  kebijakan yang diambil.Semoga kita mampu menjalankan tugas yang berat ini untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat hidup dalam lingkungan yang dinamis dan penuh kompetitif dengan perubahan yang luar biasa akibat ledakan bom komunikasi dan informasi yang tak kenal waktu.

Posted: January 11, 2013 in Uncategorized

BOUGENVILLE UNGU

       Namaku Rara, aku anak kedua dari lima bersaudara, ayahku seorang tukang sol sepatu di daerah blok M, dan ibuku berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, aku punya seorang kakak perempuan dan tiga orang adik laki – laki. Kehidupan kami sangat bahagia meski rumahku hanya ditempelin seng seng bekas dan terpal sebagai atap agar tak bocor dikala hujan, meski hanya mempunyai satu kasur spons dan dua tikar bagi kami itu sangat luar biasa, sepertinya meja dan kursi bukan lagi menjadi kebutuhan  utama, kebutuhan perut dan sekolah menjadi kebutuhan yang paling mendasar bagi keluarga kami.

Meski ayahku seorang tukang sol sepatu tapi aku bahagia sampai detik ini karena dengan keringatnya aku mampu menyelesaikan pendidikan SMP, dan bagiku itu adalah karunia Tuhan  yang tak  ternilai. Disini dipojok taman ini dulu Bougenville Ungu  selalu menetramkan hatiku, berbagai perasaan gundah, marah, benci dan sedih menjadi satu, Bougenville Ungu membuat hatiku tentram, menatap indahnya karunia Allah, dihiasi warna warni yang kontras sungguh menakjubkan, masih kuingat ketika ayah  membawaku ke taman ini bercerita tentang Bougenville  bunga kesayangan  ibuku, wanita kampung yang dinikahi lima belas tahun lalu, Pada zaman itu  Bougenville sangat ngetrend, sampai ada lagunya loh cerita ayahku. Ditaman ini pula ayah banyak memberi  motivasi kepadaku, untuk selalu kuat dan tabah dalam menerima apapun keputusan Allah, segala kehendakNya adalah yang terbaik bagi hambanya, bila ayah memulai pembicaraan ini Ia selalu memetik setangkai  Bougenville Ungu  untukku, namun sekarang itu takkan mungkin kurasakan lagi, ayah sosok yang aku kagumi, yang aku banggakan, lima bulan ini tak mengunjungiku lagi.

Kebahagian ini  sirna, aku tak pernah tahu mengapa ayah lakukan ini padaku hingga suatu malam, saat ibu menemaniku pasca operasi dalam desahan nafasnya masih kudengar suara lirihnya meratap pada Zat pemegang kekuasaan atas diri manusia, sebuah doa yang memunculkan semangat hidupku, doa yang membuatku semakin kuat menjalani peranku sebagai hamba yang patuh dan anak yang baik, pelan dan syahdu balada tua memohon pada Allah” Ya Allah…aku terima semua keputusanMu, aku terima apa apa yang telah Kau tetapkan padaku, hamba tak kuasa dan tak berdaya menolaknya, dia adalah anakku yang paling kusayang, aku tak bisa hidup tanpanya, ia semangat hidupku, ia kekuatanku, ia matahari dalam jiwaku, cukuplah Kau biarkan pasanganku pergi meninggalkanku, disaat aku membutuhkannya, disaat aku butuh tempat untuk menangis, disaat aku butuh tempat untuk berbagi, bercerita tentang dukaku, tentang air mata yang kusembunyikan agar gadis kecilku tak melihat ini semua. Ya Rabb..Kuatkan hatinya ketika esok ia bangun, ia hanya mendapati kakinya yang tak sempurna lagi…” mendengar itu segera kugerakan kakiku  dengan sekuat kuatnya meski itu tak dapat kulakukan. Kurasakan sakit yang luar biasa, ingin rasanya aku bangun dan duduk  dengan sempurna melihat kedua kaki indahku, tapi apa yang terjadi bagai disambar geledek, seakan langit runtuh ketika tanganku dan mataku berusaha mencari dan memegang betis kaki ini…dan tak kutemui sepenggal kaki yang jari jarinya kadang kupakaikan kuteks . Tuhan apakah ini  petaka bagiku   salah satu kakiku  diamputasi akibat kecelakaan kereta api, tak tahu siapa yang harus  disalahkan aku tak ingin mengingatnya kejadiannya begitu cepat dan mengerikan. Aku sudah lelah untuk menangis yang aku lakukan adalah mencoba menjadi lebih dekat lagi pada Allah, Tuhan yang memberiku nafas dan pada ibu yang mencintai aku dengan hati dan cintanya.

Sehat itu nikmat sedangkan sakit adalah tanda kasih sayang Allah. Nikmat karena dengannya aku bisa beribadah lebih maksimal tanpa dari rasa sakit yang mengangu. Dan tanda sayang karena dosa sedang digugurkan. Bagi orang-orang yang beriman, kesenangan atau kesusahan merupakan dua ladang yang sama-sama menguntungkan. Bila ia mendapat kesenangan, ia akan bersyukur sehingga kesenangan tersebut terus akan ditambah. Bila ia ditimpa kesusahan, maka ia akan bersabar sehingga dengan kesabarannya itulah, dosa dosanya berguguran.

Aku pernah membaca sebuah buku didalamnya tertulis sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda: “Ada dua kenikmatan yang dilupakan oleh banyak orang, yaitu kesehatan dan waktu luang” (HR. Bukhari)

Kenikmatan yang diberikan Allah swt kepada kita memang tiada taranya. Manusia dapat menghirup udara dengan bebas, tanpa ada bayaran sepeser pun, itu karena nikmat dari Allah swt. Allah swt memberikan kita fisik yang sempurna, bebas bergerak kesana kemari dan diharapkan selalu melakukan banyak kebaikan. Namun terkadang manusia suka lupa mensyukurinya, terutama di kala ia senang dan sehat yang hanya digunakan untuk hal-hal duniawi. Seseorang biasanya baru menyadari bahwa kesehatan itu amatlah penting ketika ia jatuh sakit. Ketika sakit, ia mengeluarkan banyak biaya untuk berobat. Ketika sakit, ia tak dapat beraktivitas sebagaimana mestinya. Dan yang terpenting, apabila sakitnya cukup parah hingga tidak bisa bangun dari tempat tidurnya seperti aku saat ini, aku  kesulitan melakukan sholat dan ibadah lainnya. Ketika sakit itulah,baru tersadar dan menyesali mengapa di waktu sehat aku tak mendekatkan diri pada Tuhanku,

Ujian ini terlalu berat bagiku, bagi seorang remaja putri sepertiku, aku ingin bersenda gurau dengan teman teman, aku ingin ke bioskop, aku ingin naik motor sambil memainkan laju kecepatannya, aku ingin bernyanyi sambil bergoyang, aku ingin berlari dibawah derasnya hujan sambil berteriak teriak, aku ingin merasakan bagaimana berjalan ala pragawati, Duhai Allah mengapa kau ambil kaki kananku, aku terlihat tak berdaya, aku bagai anak burung yang patah hingga tak mampu untuk terbang, aku merepotkan banyak orang, dan karena ini pula ayah pergi meninggalkanku, malukah ia?….mendapati aku anak gadisnya dalam kecacatan? Kini tak ku dapati lagi setangkai Bougenville Ungu, tak kudengar lagi cerita ayah yang membuatku tertawa terbahak bahak, tak kudengar lagi curhat ayah ketika diomelin ibu, semuanya hilang, lenyap meski harapku selalu ada. Taman ini menjadi saksi begitu rinduku padamu ayah

Kesehatan memanglah salah satu nikmat Allah swt yang utama. Tanpa kesehatan yang baik, kita tidak bisa bekerja dan melakukan hal-hal yang kita inginkan. Oleh karena itu, betapa pentingnya menjaga kesehatan, baik kesehatan jiwa maupun raga, jasmani maupun rohani. Di kala sehat manusia juga diuji, apa saja yang ia lakukan dengan tubuhnya yang sehat itu. Maka akan sangat baik jika tubuh yang sehat ini kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.

Dan gunakan nikmat itu untuk taat kepada-Nya. Firman Allah swt: “Dan ingatlah ketika Rabb-mu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat itu kepada kalian. Dan jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (QS. Ibrahim: 7)

Masih kuingat ditaman itu, ditemani ayah dan setangkai bougenville Ungu beliau mengatakan Sakit adalah bagian dari musibah yang telah Allah ukur kadarnya untuk dihadiahkan pada hamba-hamba terpilih yang mampu menanggungnya. Sakit itu dzikruLlah. Mereka yang menderitanya hampir pasti lebih sering & syahdu menyebut asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya. Sakit itu istighfar. Mereka yang sedang disapanya lebih mudah untuk teringat dosa-dosa lama, mengakuinya, & bertaubat mohon ampun.
Sakit itu Tauhid. Mereka yang parah dicengkramnya pasti dituntun orang untuk ber-kalimat thayyibat, mengesakanNya dalam lisan & rasa. Sakit itu Muhasabah. Sebab dia yang sakit punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali. Sakit itu Jihad. Sebab dia yang sakit tak boleh menyerah kalah, dia diwajibkan untuk terus berikhtiar, berjuang bagi kesembuhannya. Sakit itu ilmu. Dalam menjalani pemeriksaan, berkonsultasi dengan dokter, dirawat, & berobat bertambahlah pengetahuan tentang tubuhnya. Sakit itu Nasehat. Yang sakit ingatkan yang  sehat tuk jaga diri. Yang sehat  menghibur  si penderita  agar bersabar Allah cinta keduanya. Sakit itu belajar. Berbaring setengah duduk memungkinkan menyerap ilmu dengan tekun lewat buku, kata-kata terucap, maupun gambar gerak. Sakit itu membuat sedikit tertawa & banyak menangis; satu perilaku keinsyafan yang disukai Nabi & makhluq-makhluq langit. Sakit itu meningkatkan kualitas ibadah; ruku’-sujud lebih khusyu’, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyat & doa jadi lebih lama. Sakit itu memperbaiki akhlaq; kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut & tawadhu’. Sakit itu membuat kita lebih serius mengingat & mempersiapkan kematian. Dia yang merasa dekat maut menghargai waktunya dengan baik. Begitu kuatnya aku merekam kata kata ayah hingga kuhafal betul mimiknya ketika mengulangi kata kata ini untukku….tapi sekarang kemana ayahku…dimana Bougenville Ungu itu?  tak kutemui lagi keduanya…

Posted: December 6, 2012 in Uncategorized

“PINANGLAH IA UNTUKKU”

cincin

Derasnya air yang mengalir membuat bak bak besar yang berisi cucian cepat terendam, beberapa pakaian  berwarna dipisahkan agar tak luntur,  dengan menggunakan beberapa genggam bubuk deterjent ditambah beberapa liter air, kurendam  pakaian berwarna putih  agar hilang noda dan kotornya, ditemani dua putri kecilku kami membagi tugas. Walau begitu banyak pakaian kotor tapi tidak menjadi  beban bagi kami trio kwek kwek untuk menyelesaikannya, sambil bermain, bernyanyi, bercerita maka tak akan terasa lelah, sebuah pekerjaan yang selalu dianggap banyak orang sebagai pekejaan yang sangat melelahkan. Dering telpon nokia tune terdengar dari Hpku, terbaca Haykal memanggil, dengan bergegas aku mengangkat telephon genggam C3 kepunyaanku,

“Assalamuallaikum Kal,”Sapaku dari jauh

“waallaikum salam bu, maaf beta mengganggu ”Jawabnya denga sangat berhati – hati

“ Iya, ndak apa – apa, gimana urusan dengan pujaan hatimu, sudah sampai dimana pembicaraan kalian?” Tanyaku panjang, masih kutangkap ada nada berat dari suaranya, sepertinya ia sedang berpikir kata apa yang akan diucapkannya.

“Ibu, apakah tiket ke Ambon  sudah dibatalkan” Tanyanya singkat

“Belum, kenapa”Jawabku sambil menyikat kerah baju sekolah Milla yang sangat kotor

“Ibu, Apakah beta sudah boleh menikah”

“Tentu”

“Masih bolehkah kutitipkan cinta ini pada gadis kecintaanku ”

“Kenapa tidak”

“Kalo begitu dapatkah ibu berangkat sekarang untuk meminang gadis pujaan hatiku?”

“Tentu, dengan senang hati”

“Alhamdulilah terima kasih bu, beta tunggu di Ambon ya besok pagi”

“Ok” Jawabku sambil menutup pembicaraan kami dengan salam, jujur aku sendiri tidak yakin apakah yang aku lakukan adalah benar, tetapi aku ingin agar anakku tahu bahwa sebagai orang tua kami hanya bisa mendukung apa apa yang sudah menjadi keputusan mereka, sepanjang keputusan itu tidak melanggar syar’i. Namun  tak ada salahnya juga bila orang tua diberi kesempatan untuk  memberi pandangan tentang hakikat sebuah perkawinan. Perkawinann adalah suatu perjanjian suci yang kokoh karena perkawinan terjadi atas nama Allah SWT dan diatur menurut ketentuan – ketentuannya. Perkawinan juga adalah jalan terbaik untuk memelihara dan berkorban guna kepentingan anak – anak dan memperbanyak keturunan dalam melanjutkan kehidupan didunia  dengan jalan memelihara garis keturunan sebagaimana telah di atur dalam Islam.Dalam hubungan perkawinan masing – masing pihak diharapkan dapat saling mengenal dan memahami profil calon istri dan suami tentang watak serta akhlaknya dan cara untuk saling mengenal antara calon suami dan istri telah diatur oleh syariat dengan seksama dan dengan batas – batas yang diatur secara spontan dan terpelihara.

Dengan sisa waktu lima jam aku persiapkan segalanya, meski padat  acara di minggu ini tidak membuatku bingung, hal ini karena penugasan dapat dialihkan kepada beberapa sahabat yang mampu mengaturnya. Mulai dari buah tangan, sampai buah beneran sengaja kusiapkan sebagai oleh – oleh calon besan anakku, aku berharap mereka dapat mengerti kondisi ini, “mmmhhhhhh’ aku menarik nafas panjang membuang rasa lelahku, masih kuingat tarik ulur rencana pernikahan anakku, mulai dari jadwal meminang yang batal beberapa kali, sampai mas kawin  dan seserahan yang terkesan diminta dengan paksa dan dengan nominal yang tinggi, ketika abah meninggal semua adik – adik perempuanku  menikah tidak pernah satupun calon mempelai suaminya kami beratkan dengan ongkos dan mas kawin mereka datang dengan beberapa ratus ribu rupiah, keimanan, tanggung jawab dan cinta yang tulus, dan itu sudah cukup bagiku untuk menikahkan mereka, cerita suamiku suatu waktu yang hingga kini masih kuingat . Dan memang benar tak kupungkiri ketika anak gadis kami menikahpun hanya dengan selembar uang sepuluh ribu rupiah lecek sebagai mas kawinnya, meski sedih hati orang tua tapi inilah kemampuan sang pria, dan pilihan sang anak gadis . Gambaran inilah yang membuat kami sebagai orang tua merasa kedepannya pekawinan anak – anak nantinya tidak akan mengalami kendala, dan ternyata rambut boleh sama hitam, tapi lain kepala lain pula pemikiran. Pihak mempelai meminta diluar perkiraan kami. Akhirnya proses meminangpun tertunda. Telepon anakku sore tadi memberi isyarat bahwa sang mempelai wanita telah maklum dengan kondisi mempelai pria serta menerima apapun keputusan dari keluarga besarnya.

cinta laki laki biasa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sambil menunggu waktu keberangkatan, aku kembali merenungi berbagai pola pikir manusia yang berbeda dalam memaknai makna perkawinan, tentang hukum perkawinan dan alasan perkawinan yang mereka lakukan. Bicara tentang hukum perkawinan ternyata para ulama sepakat bahwa ada lima hukumnya yaitu :

  1. Jaiz (diperbolehkan) atau Mubah
  2. Sunnah ( bagi orang yang berkehendak dan mampu)
  3. Wajib atas orang yang cukup belanjanya dan ia takut tergoda pada kejahatan zina
  4. Makruh terhadap orang yang tidak mampu memberi nafkah
  5. Haram bagi orang yang akan menyakiti wanita yang akan dinikahinya.

Berarti pandangan masing – masing perkawinan tidaklah sama status hukumnya apakah perkawinannya termasuk Mubah, Sunnah, Wajib, Makruh atau Haram. Dari kelima ini maka aku berharap apa yang kulakukan dengan pasanganku masuk dalam kategori Sunnah demikian pula harapanku pada putra putriku.Lamunanku buyar ketika kami harus masuk kedalam pesawat yang telah siap menerbangkan kami menuju Bandara Patimurra.

“Ibu, ada dimana?”

“Ibu sudah ada dirumah Tantemu, kamu kesini ya biar kita bisa cerita bareng keluarga abah”

“Iya, usai sholat Jumat..beta langsung ke sana”

“Ok, ibu tunggu ya” kataku penuh harap, walau sesungguhnya ada perasaan galau dihatiku tentang maju mundurnya perkawinan ini, namun aku tak ingin menunjukan pada anakku tentang kegusaran hatiku. Bahasa – bahasa yang tak terkontrol, pandangan pandangan yang isinya sarat dengan sesuatu yang mubazir ditambah dengan ketidaksiapan materi dari calon mempelai lelaki yang dalam hal ini adalah anakku membuat kami semakin bimbang dan berhati-hati untuk membicarakan segala sesuatu dengan keduanya. Ketika seorang lelaki atau perempuan akan melangsungkan perkawinan, tentu ada alasan yang melatar belakanginya, apakah ia mengharapkan kekayaannya, karena kebangsawaannya, kecantikannya ataukah karena agama atau budi pekertinya yang baik. Kita akan teringat sebuah Hadis Rasulullaah Saw : “Orang suka menikah kepada wanita itu karena empat hal, yaitu karena keturunannya, karena kecantikannya, karena kekayaannya dan karena agamanya. Maka menikahlah kepada yang beragama niscaya kamu beruntung”

“Ekal, ketika kamu meminta kami para orang tua, umi, abah dan Ibu untuk meminang gadis pujaanmu maka dengan serta merta kamipun setuju, ibu hadir disini untuk menemanimu meminang kekasih hatimu itu, tapi sebelumnya ingin Ibu tanyakan apakah sudah benar – benar ini adalah pilihanmu, karena menikah itu baiknya selaraskan dulu visi misi kalian sebelum melangkah ke jenjang yang lebih jauh, dengarkan pendapat pendapat orang tua, paman,bibi, bahkan tetangga yang mereka juga mengenal calonmu sebagai masukan agar nanti kamu tidak terkesan membeli kucing dalam karung.” Paparku dengan lugas

“ Sudah bu, aku sudah mantap dengannya hanya pihak keluarga wanita  meminta agar keluarga lelaki dapat meminang calon mempelai wanita secepatnya”

“Ya sudah, tapi bolehkah ibu tau alasanmu   yang mendasar untuk  menikah?”

“Dia baik bu, sederhana dan mengerti aku”

“Ooooh..apakah itu cukup?”tanyaku penasaran

“Tahukah kamu nak orang menikah itu ada beberapa alasan, alasan pertama alasan harta, jika seorang lelaki atau perempuan melangsungkan pernikahan hanya disebabkan  karena harta benda atau kekayaan calon pasangannya, itu sangat tercela dalam pandangan agama, lalu ketika seseorang menikah hanya terfokus pada gelar kebangsawanan atau keturunannya maka ia benar – benar telah menjual dirinya untuk sesuatu yang bersifat materi atau duniawi semata. Padahal Allah dalam Al quran telah menggariskan, bahwa orang yang paling mulia disisiNYA yaitu yang paling bertaqwa. Kemudian ketika seseorang menikah karena kecantikan, sesungguhnya kecantikan itu akan luntur seiring jaman hendaknya memilih kecantikan hati karena tak akan lekang dimakan waktu, namun ketika seseorang menikah dengan alasan agama dan budi pekerti, maka perkawinan itu akan menghasilkan rasa cinta kasih dan saling menyayangi sehingga menimbulkan kemaslahatan bukan hanya kemaslahatan pada keluarga tetapi juga masyarakat luas, Sebaik – baik perempuan adalah perempuan yang shaleh, mereka taat kepada dan suaminya, memelihara hak suaminya sewaktu  suaminya tidak ada, dengan kata lain calon istrimu harus siap menjadi istri pendamping suami dikala suka dan duka dengan menerapkan semua sikap dan perbuatan untuk mencapai faedah yang tinggi dan akhlak yang mulia, karena dia adalah perhiasanmu yang akan memberikan keturunan-keturunan yang baik pula.”

Wejanganku dan bibi – bibinya membuat ia berpikir keras, hari yang ditunggu tiba, acara lamaran kali ini seolah telah memberikan jawaban bagi putraku, kultur dan adat yang keras telah memberikan cara berpikir  yang berbeda, mereka lebih mementingkan hari itu terlihat hebat ketimbang hari sesudah itu, nama baik, gengsi,  kehormatan membuat sebuah kata keluar dari lisan anakku  ” Ibu maafkan aku, lamaran ini aku batalkan” Masyaallah….., Semoga Allah SWT memberimu pasangan yang lebih baik lagi dunia dan akhirat kelak.Amiin

SURGAMU ADALAH SUAMI

Posted: November 7, 2012 in Uncategorized

“SURGAMU ADALAH SUAMI”

 

          Bau kambing dan kotoran sapi tidak  membuat anak anak menjauh dari kandang malah mereka semakin  bersemangat mengambil rerumputan untuk diberikan kepada hewan – hewan qurban yang telah disiapkan panitia untuk didistribusikan, Laju kendaraan bermotor menambah riuh suasana pagi itu, terlihat gairah semangat berqurban yang luar biasa dari umat muslim dilingkungan kompleks rumahku. Canda tawa anak – anak, kebahagian mereka membuat kebahagian tersendiri para para orang tuanya, sungguh akupun merasakan hal yang sama, qurban sudah menjadi agenda wajib bagi keluarga kami didalamnya termuat begitu banyak hikmah dan kisah teladan yang harus disampaikan kepada anak-anak agar mereka dapat mengerti makna qurban itu sendiri.

Beberapa panitia telah berkumpul untuk membantu para pequrban mendata kembali hewan qurbannya, sementara dikejauhan sana terlihat seorang lelaki paruh baya  dengan celana pendek coklat sedang  serius  menulis nama-nama pequrban  yang ada di atas meja bambu di depannya.

“Ayah, ayah koq belum nyampe –nyampe sih kirimannya?, kemarin alamat yang ayah kasi bener kan? Jangan – jangan ayah salah nulis lagi!” kata si ibu tadi. Dari suaranya sepertinya aku kenal pikirku, dengan sedikit menoleh kekanan langsung aku berpindah posisi sembari mengulurkan tangan kanan “assalamualaikum bu”

“waalaikum salam mama salma, baru kelihatan, dari mana saja, mau qurban ya ” jawabnya diiringi dengan rentetan pertanyaan.Aku hanya tersenyum

“Ibu sehat?”tanyaku

“Ya gitu deh bun, alhamdulilah semuanya sehat  cuma kantongnya ini yang kurang sehat”jelasnya yang diakhiri dengan tawa kecil

“alhmdulilah syukurlah, mudah – mudahan dengan mensyukuri yang ada sekarang Allah menambahkan lagi pada yang lain ya”

“Iya bun,amiin”

“Bunda, tolong nasehatin istri saya tuh, orangnya gak pandai bersyukur, kalo saya kasi gak pernah ada basa basinye, apa kek…itu kek…katanya kurang mulu, makanya ibu  itu harus pake jilbab, ngaji, bukan ngumpul bareng orang – orang yang gak jelas, akhirnya nih bun, temennya sendiri nyeritain kejelekan dia, lah suami mana yang suka kalo istrinya dijelek – jelekin dimuka umum. Itu kalo ada ya bun berarti suaminya  orang gila” sang suami nyerocos tanpa koma dan titik. Gak kebayang kalo bahasa ini keluar dari mulut suamiku mungkin saat itu juga aku jatuh pingsan kali.

“Apaan sih ayah, emang ayah udah bener apa, solat aja kagak pernah pake acara kuliahin ibu, ngaca-ngaca dooooong” si istri  sewot

“emang kalo aku solat harus pengumuman gitu sama kamu, dikasi tau malah ngelawan sama suami, masuk neraka kamu tuh jadi istri yang durhaka!” sumpah suaminya

“Astaghfirullah…bapak ibu saya pulang dulu, maaf masih banyak urusan yang harus saya selesaikan dirumah, mari…assalamualaikum”  akupun bergegas menjauh dari tempat tadi, risih rasanya mendengar pertengkaran yang posisinya didepan jalan umum, berdiri, belum sholat dhuha, lalu  mendengar aib – aib yang dikeluarkan tidak pada tempatnya.

Usai sholat ashar kubungkus beberapa ikan pepes dan gulai daun singkong lengkap dengan sambel jengkolnya, sengaja kubuat sebagai buah tangan untuk mengunjungi keluarga bapak Rommi dan Ibu Wita jarak rumahnya tidak jauh hanya lima menit motor revo bututku sudah terparkir didepan rumahnya.

“Assalamualaikum”

“Waalaikum  salam, eh bunda silahkan masuk bun, ayah..ayah ada bunda Endah ini,”

“Oh iya ini ada pepes ikan dan gulai nangka,tapi punten ibu doyan jengkol ngga?

“Wah itu kesukaan ayahnya Nathan bun, emang kenapa bun”

“Nggak apa-apa saya tadi buat dirumah banyak, makanya saya bawa sedikit kesini, alhamdulilah kalo doyan”

“Ih bunda pake repot repot segala, oh iya bunda kami mau minta maaf tentang yang kemarin, jadi gak enak sama bunda, kata ayahnya Nathan bunda Endah marah kali sama kita bu” jelas sang istri, sang suami keluar sembari membawa gorengan tahu yang ia masak sendiri.

“Silahkan bun, dicoba ini buatan saya loh, ga tau enak apa nggak soalnya minta tahu isi aja sebulan ga dibikin-bikin sama istri.” Curhat sang suami

“Ayah jangan ngomel-ngomel lagi dong nanti bundanya pulang lagi nih”

Aku hanya tersenyum kecil, “Bu, sungguh beruntung bu Wita mendapatkan suami seperti bapak, bapak bisa memasak, menyapu, menyuci baju, suatu hal yang jarang ditemui dilingkungan kita. Dalam sebuah hadis dikatakan  “Dan wanita adalah penanggungjawab di rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban.” Subhanallah mudah mudahan bapak ridho dalam menjalankannya.

Hendaknya seorang istri benar-benar menjaga amanah suami di rumahnya, baik harta suami dan rahasia-rahasianya, begitu juga bersungguhnya-sungguh mengurus urusan-urusan rumah.Artinya kita harus bertanggung jawab dalam urusan rumah serta jangan kita umbar kelemahan dan keburukan suami, suami itu adalah pemimpin kita. Tugas sang istri kepada suami dengan melayaninya dalam segala kebutuhan-kebutuhannya, bukan sebaliknya, istri yang malah dilayani oleh suami kecuali sang istri dalam kondisi sakit atau sudah ada kesepakatan dalam menjalankan tugas rumah tangga yang intinya bekerja sama dalam kebaikan. Hal ini didukung oleh firman Allah, “Dan laki-laki itu adalah pemimpin bagi wanita.” (QS. An Nisa [4]: 34)

“Bu, Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa beliau melihat wanita adalah penghuni neraka terbanyak. Seorang wanita pun bertanya kepada beliau mengapa demikian? Rasulullah pun menjawab bahwa diantaranya karena wanita banyak yang durhaka kepada suaminya. Ada lagi sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku akan memerintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya, disebabkan karena Allah telah menetapkan hak bagi para suami atas mereka (para istri).

Hak suami berada diatas hak siapapun manusia termasuk hak kedua orang tua. Hak suami bahkan harus didahulukan oleh seorang istri daripada ibadah-ibadah yang bersifat sunnah.” Jelasku panjang lebar

“Tuh bu dengerin baik – baik, ayah itu marah karena ada alasannya, dari pada ibu ngerumpi mending ibu ngobrol sama ayah”

“Tapi bapak juga harus mendukung bu Wita, jangan pingin bu Wita pake jilbab, tapi ga pernah dibeliin jilbab, pingin istrinya rajin ke majelis ta’lim tapi tidak memfasilitasinya dengan baju baju Islami atau kebutuhan kebutuhan pendukung dalam rangka menjadikan istri yang soleh, berikan Istri kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya, bapak mengharapkan istri yang soleha sementara bapak saja jarang solat, bapak menginginkan istri berkata lemah lembut sementara bapak ngomongnya kasar, bapak pingin diperlakukan dengan baik sementara pada istri bapak pelit dalam memberikan pujian, apa salahnya saat makan siang bapak mengatakan bu, sayur bayamnya enaaaak sekali, pake apa sih masaknya, nah nanti ibu menjawab, pakai cinta masaknya yah… iya nggak bu?”

“Wah boro boro bun, ntar ni kalo ada ibu – ibu pake jilbab dia ngomongnya, bu lihat itu si ibu A, cantik banget pake jilbab, dia kagak tau tuh ibu mulutnya comel banget…ih sebeel”

“Sudah..ga usah kita bahas masalah itu lagi, intinya jilbab itu bukan ukuran seseorang dianggap soleha atau taqwa, namun dengan berjilbab paling tidak kita sudah melaksanakan perintah Allah kepada kaum wanita untuk tidak mempertontonkan auratnya, selain itu keselamatan kita lebih terjaga disamping dari segi kesehatan yang  juga terlihat jelas manfaatnya. Bu ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab perilaku durhaka istri terhadap suami, mau tahu apa saja nih yang

1.         Kedudukan sosial istri lebih lebih tinggi daripada kedudukan suami,

2.         Istri lebih kaya dari suami,

3.         Istri lebih pandai dari suami,

4.         Watak istri lebih keras dari suami,

5.         Istri berasal dari lingkungan budaya yang menempatkan perempuan lebiih berkuasa

daripada  suami,

6.         Istri tidak mengerti tuntunan agama yang menempatkan istri dan suami pada ketentuan

yang sebenarnya. Nah kalo kita sudah durhaka sama suami maka tidak tanggung tanggung tempatnya adalah didasar neraka…”mhhmm aku menarik napas panjang. Suami istri itu terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Bapak ibu mau tidak menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah  mereka mengangguk sambil berkata “itu adalah dambaan setiap keluarga, tapi kami tak pernah tau seperti apa keluarga sakinah mawaddah warahmah bunda”

Jadi keluarga sakinah mawaddah warahmah ciri cirinya itu  memiliki kecenderungan kepada agama, yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda, sederhana dalam belanja, ( santun dalam bergaul dan selalu introspeksi. Saya pernah membaca dalam hadis Nabi juga disebutkan bahwa: “ empat hal akan menjadi faktor yang mendatangkan kebahagiaan keluarga (arba`un min sa`adat al mar’i), yakni suami / isteri yang setia (saleh/salehah), anak-anak yang berbakti, lingkungan sosial yang sehat , dan mencari/berusaha agar dekat rizkinya.”

Hubungan antara suami isteri harus atas dasar saling membutuhkan, seperti pakaian dan yang memakainya (hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna, Q/2:187). Fungsi pakaian ada tiga, yaitu (a) menutup aurat, (b) melindungi diri dari panas dingin, dan (c) perhiasan. Suami terhadap isteri dan sebaliknya harus menfungsikan diri dalam tiga hal tersebut. Jika isteri mempunyai suatu kekurangan, suami tidak menceriterakan kepada orang lain, begitu juga sebaliknya. Jika isteri sakit, suami segera mencari obat atau membawa ke dokter, begitu juga sebaliknya. Isteri harus selalu tampil membanggakan suami, suami juga harus tampil membanggakan isteri, jangan terbalik jika saat keluar rumah istri atau suami tampil menarik agar dilihat orang banyak. Sedangkan giliran ada dirumah suami atau istri berpakaian seadanya, tidak menarik, awut-awutan, sehingga pasangannya tidak menaruh simpati sedikitpun padanya. Suami istri saling menjaga penampilan pada masing-masing pasangannya, betul tidak pak bu?” keduanya tersenyum seolah olah pernah melakukan hal ini.

“Bapak ibu sebagai Suami istri harus tulus dalam menjalankan kewajibannya, dengan didasari keyakinan bahwa menjalankan kewajiban itu merupakan perintah Allah SWT .Suami menjaga hak istri dan istri menjaga hak-hak suami. Dari sini muncul saling menghargai, mempercayai, setia dan keduanya terjalin kerjasama untuk mencapai kebaikan didunia dan akhirat yang hulunya mengharapkan surga Allah. Suami menunaikan kewajibannya sebagai suami karena mengharap ridha Allah, istripun demikian , menunaikan kewajiban sebagai istri seperti melayani suami, mendidik anak-anak, dan lain sebagainya juga berniat semata-mata karena Allah SWT.” Uraiku panjang lebar. Tiba tiba bunyi hpku memecah suasana, panggilan dari suami tercinta “ mah ada dimana? Beta lapar mau makan nih” dan kujawab ok I am coming.

Sepasang suami istri itu mengantarku hingga pintu pagarnya sambil berkata” bunda terima kasih, untuk masukannya doakan kami agar mampu mempraktekan keluarga sakinah mawaddah warohmah,”

“Insyaallah, saya akan selalu mendoakan bapak dan ibu, bukankah umat muslim itu harus saling mengingatkan dan saling mendoakan, satu lagi pesan saya pak, jangan berhenti memuji ibu, kalau bukan bapak siapa lagi yang akan memuliakannya, semua diawali dari kita. Kataku setengah berbisik yang tetap terdengar oleh sang istri, tanganku dijabat erat oleh bu Wita diakhir pertemuan itu wanita paruh  baya tadi mengucapkan “terima kasih Allah,terima kasih bunda kuingin masuk surga bersamanya” sembari mencium pipi kanan dan  kiriku.

Subhanallah..sebuah pertemuan yang memberi pelajaran khusus bagiku, ketika mampu berdakwah kepada orang lain apakah mampu untuk aku praktekkan dan mempertahankannya demi menggapai keluarga sakinah mawaddah warohmah….wallahu alam bis showab, semoga Allah memberikan ilmu dan kasih sayangnya agar kami terus belajar memperbaiki diri dengan cinta dan kasih yang melekat dalam qolbu setiap insan.Amiin

Posted: October 4, 2012 in Uncategorized

Spiritual Happines

 

“Asyik..bunda sudah ngajar, ntar gajian dong, kita bisa beli ini dan itu, kita juga bisa makan enak nih di TEKO..” celoteh sang kakak yang membuat hatiku tersenyum.

“Emang mau beli apa kak?” tanyaku pada gadis kecilku

“Aku mau beli baju pramuka sama baju putih nih bun, udah sempit..coba bunda liat nih udah ketat banget susah kalo mau dikancing” jelasnya sambil menunjukan kancing bajunya yang sedikit ketarik dan membuat tak sempurna kedudukan kancingnya.

“Makanya jadi orang jangan gendut gendut, coba liat abang beli baju standar mau dua tahun lagi masih muat”celetuk abang dengan santainya.

“Apaan…orang kita makannya sama…weeeeiih”

“Sama emang, tapi beda porsi, yang makan banyak harusnya laki-laki” abang menjawab kekeh marekeh.

“Ihh..pada berbalas pantun, mendingan kayak aku dong tenang pasti yang dibeliin nanti aku doang” si bungsu menimpali

“Bukan bayaran atau hadiah yang ibu harapkan tetapi pahala yang Allah janjikanlah itu yang sedang kukejar, Seseorang akan meraih kebahagiaan tertinggi ketika jiwa robbani yang tertinggi berhasil mengemban tugasnya dengan baik mengendalikan nafsu, pikiran, dan tindakan seseorang untuk senantiasa merasakan kedekatan dan disayang Tuhan. Untuk bisa dekat dengan Tuhan Yang Suci, seseorang haruslah berusaha menjaga kesucian dirinya. Agar disayang Tuhan, seseorang hendaklah senang berbagi kasih sayang kepada hamba-hamba Tuhan. Jadi, kebahagiaan spiritual diraih melalui perjuangan rohani untuk selalu menjaga fitrah kerohaniannya untuk memimpin jiwa insani,  sehingga melahirkan tindakan dan karya-karya kemanusiaan sebagai partisipasi dan realisasi asma Allah Yang Rahman dan Rahim itu maksud ibu” Jelasku panjang lebar kepada ketiganya.

Andai saja orang tahu bahwa Kebahagiaan spiritual memiliki banyak pintu, tetapi nilainya paling tinggi. Dengan kapasitas intelektualnya seseorang bisa saja memperbanyak karya kemanusiaan sebagai rasa syukur kepada Tuhan. Dengan kecerdasannya yang dibimbing oleh jiwa robbani seseorang akan lebih mampu memahami dan menghayati kebesaran Tuhan sehingga ketika sujud akan lebih khusyuk. Kesadaran  spiritual, dengan bantuan jiwa akan sanggup menatap keindahan, kehebatan, keunikan semesta yang akan mendatangkan rasa damai, kagum, optimistis, bersyukur, merenung yang membuat hati lega dan bahagia.

“Coba kalian lihat kehidupan Bude Wina, banyak uang, pangkat yang tinggi, dihormati, disanjung, dielu – elukan tapi kehidupannya selalu kurang, mereka selalu berpikir kitalah yang paling kaya darinya, padahal dari segi materi, kita biasa saja, dari segi pangkat abah hanyalah kuli atau kurir jasa pengiriman barang, itu semua karena tingginya rasa syukur kita pada Sang Khalik, semua yang terbentang ini merupakan ayat-ayat Tuhan, sejak dari lembaran kitab suci, hamparan semesta sampai seluruh penghuninya yang sanggup membuat kesadaran rohani bertasbih mensucikan Tuhan. Kita telah merasakan kebahagiaan spiritual dan salah satu bentuk ekspresi dari spiritual happines adalah bersujud dan menyebarkan salam bagi semua mahkluk Tuhan sebagaimana secara karikatural dibahasakan dalam adegan salat bagi seorang muslim.”

“Nih..aku contohkan…Sesuatu yang dimulai dengan takbir, mengangkat tangan sambil mengucapkan Allahu Akbar, lalu ketika sujud merendahkan kepala dan wajah dengan mencium tanah, dan diakhiri dengan menyebar salam ke kanan dan ke kiri, sesungguhnya adegan salat itu menjadi sikap hidup di mana pun seseorang berada jika ingin meraih spiritual happiness, yaitu hati selalu tertuju kepada tuhan, pikiran senantiasa mampu membaca ayat-ayat Tuhan, dan ke  mana pun pergi selalu menyebar  salam.Kelihatannya sepele tetapi Islam membawa jiwa kita menjadi lebih bermakna, Iya nggak…” tanyaku

“Iya …aku seneng deh kalo mama ngomong gini, hatiku kayaknya adem banget jadi pingin berbuat baik terus….ternyata gak susah yah untuk merasakan kebahagian spiritual” kata sibungsu dengan kalem

“ Jiiiaaah…Kebahagian spiritual…kayak anak dewasa aja lo, emang berasa apa dek” si abang gerah dengerin celoteh adiknya bagai orang dewasa.

“Yaiyalllah…masa yaiiyadong…aku pernah ngerasain waktu temen aku bapaknya meninggal dia nangis terus, lalu kita hibur dia ee pas bapaknya mau dikubur dia nangis lagi, terus aku bilang..eh teman teman yuk kita hibur nindya biar dia ga sedih, alhamdulilah berhasil dia bisa ketawa mau makan lagi ketimbang kakaknya yang lagi shock,…”

“Alhamdulilah hebatnya anak mama…itu tandanya kamu peka terhadap orang lain dek, terus dijaga ya karena kita itu makhluk social yang harus saling berhubungan dan saling membutuhkan, rohani dan nurani akan merasa bahagia dan lega jika orientasi  hidup seseorang lebih menyenangi untuk memberi, bukannya selalu menerima.

Spiritual happiness akan mudah ditemukan pada pribadi-pribadi altruistic, yaitu mereka yang selalu mensyukuri hidupnya dengan cara berbagi kebahagiaan pada orang lain. Bukankah seseorang dikatakan berilmu ketika dia mau bebagi ilmunya dengan orang lain? Bukankah dikatakan dermawan dan baik hati hanya jika seseorang senang menolong orang lain? Dalam tindakan memberi itulah nilai dan predikat kebajikan dan amal saleh akan muncul. Ketika semua itu dilakukan dengan tulus, tanpa paksaan dan terbebas dari keinginan untuk pamer, di situlah spiritual happiness akan muncul dan dirasakan”.

“Pesan ibu buat kalian, Orang yang beriman  yakin bahwa iman dan amal saleh itulah yang akan menjadi sayap dan penunjuk jalan melanjutkan episode kehidupan barunya nanti yang diyakini lebih indah, damai, dan berkualitas so jangan persulit kehidupan kalian hingga jelimet ga ketahuan juntrungnya, ikuti kata hatimu, lakukan sesuai kemampuanmu dan pikirkan itu sesuai logika insyaallah kebahagian spiritual akan kalian dapati. Karena hidup adalah  sebuah perjuangan dan proses metamorphosis untuk meraih derajat lebih tinggi, kita mesti selalu optimis dan tidak boleh terkecoh sehingga tidak kehilangan horizon dan peta hidup yang terbentang di depan”.  Ujarku dan mengakhiri dengan salam yang membuat anak – anak tertawa melihat gaya ibunya bagai orang yang sedang ceramah disebuah majelis Ta’lim.

Semoga yang sedikit ini dapat terekam dengan baik dibenak mereka agar selalu memunculkan Spiritual Happines dalam keadaan apapun.

 Segala Puji Hanya Milik Allah….

” Sang Waktu”

Posted: September 6, 2012 in Uncategorized

“SANG WAKTU”

 

“ Bun… pliss maapin aku ya…”

“Bun jawab dong smsnya,…L”

“ Bun, aku janjiga kayak gitu lagi,…L “

“Bun, sedang Allah saja Maha Memaafkan kesalahan hambanya, sebesar apapun itu koq bunda ga mau maafin aku sich, aku sedih nih nanti berat badanku turun gimana…L…L

Sms terakhir anakku membuatku tersenyum geli, ternyata dia sudah tau jurus pamungkas menundukan hati ibundanya, meriwayatkan hadits shohih yang selalu jadi andalanku ketika meluluhlantakan hati suami….hhmmm buah jatuh tak jauh dari pohonnya….kakak..kakak…: gumanku. Bagi sebagian orang tua menerapkan waktu yang berkualitas bagi anak-anaknya ternyata gampang-gampang susah, dan aku mengalaminya. Kebiasaan mengulur ngulur waktu, dan lalai menjalankan kewajiban sebagai seorang anak muslim menimpa kondisi anak – anak sekarang. Andai mereka mengerti bahwa waktu adalah salah satu nikmat Allah yang sangat besar dan berharga, meski waktu bukanlah uang, keberadaannya tidak akan bias tergantikan oleh materi dan kekayaan.

Yaa Allah… ampunilah hamba, marah ini karenaMU, cinta ini juga karenaMU, berikanlah kami pengetahuan yang luas untuk mendidik putra putri kami. Andai saja anak –anakku tahu bahwa waktu     adalah nikmat yang sangat bernilai, apalagi bila waktu itu kita dekatkan dengan kematian. Umur manusia diibaratkan antara azan dan iqomat, sangat cepat lalu mengapa kita tak pandai menghargainya? Berleha –leha dengan waktu, bahkan terkesan seperti membuang – buang waktu, Masyaallah…sebentar saja kita lalai maka waktu itu akan menebas dan memenggal leher kita lalu jadilah kita orang yang merugi.

Aku berharap tulisan ini dapat dibaca olehanak – anak kebanggaan ayah dan bunda, anak – anak muslim yang soleh dan soleha untuk menghargai pentingnya waktu seperti dalam sebuah hadist “ Rasulullah SAW bersabda : “ Jagalah lima perkara sebelum datang yang lima perkara, yaitu waktu mudamu sebelum waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum dating waktu sakitmu, waktu kayamu sebelum dating waktu miskinmu, waktu luangmu sebelum dating waktu sempitmu, waktu hidupmu sebelum dating waktu kematianmu “ (HR Bukhori)

“Bagi Orang yang beriman waktu adalah nikmat yang lebih berharga dari harta benda” jelasku pada mereka  usai santap malam.

“Koq  bias mah, kan waktu bisa di ada – adain, kayak  aku mau main terus aku minta mamah yang nemenin, terus mamah bias nemenin itu artinya waktu bias kita ciptakan  sendirikan” jawab sibungsu dengan ketus.

“ Ya saat itu, pas aku bias dan ada umur, tapi coba kalo kita kaitkan dengan kematian, saat ajal mendekat dan menyapa kita dengan lembut mengajak untuk menjumpai Tuhan sang pemberi napas, apakah kita mampu untuk menolaknya? Sebanyak apapun harta bendamu yang kausodorkan pada Malaikat Pencabut Nyawa sebagai hadiah untuk memuluskan aksi suap menyuapmu agar pertemuan dengan Sang Rabbi dapat terpending atau bahkan lolos tidak akan mungkin terjadi”.

“Wah saying sekali ya” kata sikakak sambil nyengir

“Hhhuuufft… koq gitu jawabannya kak”

“Suka-suka aku …weeh“ sang kakak menggoda

“Apapun itu tetap tidak akan bias mampu menahan ajal ini, saat itu harta menjadi tidak berguna dan tak ada seorang manusiapun yang dapat menolong untuk menangguhkan bahkan menghentikan ajal kita. Itulah yang dimaksud dengan nikmat waktu lebih berharga dari pada harta, dan Allah pun bersumpah atas nama waktu sebagai isyarat kepada hambanya bahwa begitu bermaknanya waktu yang kadang manusia lalai atasnya. Coba kalian baca dalam QS Al Ashr, Allah Swt menyebutkan sifat – sifat  orang yang beruntung , yaitu mereka yang mampu menjaga waktunya dan mereka itulah orang – orang yang beriman dan beramal soleh” jelasku pada ketiganya.

“Ada yang mau bertanya sampe disini” tanyaku yang dijawab dengan gelengan kepala mereka kemudian akupun melanjutkan diskusi ini.

“Ibu bukan orang yang bergelimang harta, namun bagi ibu hal yang membuat orang terlihat kaya yaitu ketika dia mampu menjadi orang yang pandai berbagi dan cerdas ilmunya, berbagi bukan selalu identik dengan uang tetapi dapat dilakukan dengan tenaga dan pikiran karena sebaik baiknya manusia adalah manusia yang dapat member manfaat bagi makhluk hidup ciptaan Allah Swt dan lingkungan sekitarnya, sebab suatu hari nanti waktu yang diberikan Allah kepada kita itu akan diminta pertanggung jawabannya seperti sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda : “ Tidak akan beranjak kaki seorang hamba di akhirat kecuali setelah ditanya empat perkara : yaitu tentang umurnya bagaimana ia pergunakan, tentang ilmu yang didapat lalu apa yang dilakukannya dengan ilmu tersebut, tentang harta yang ia  dapat dari mana dan kemana harta itu dibelanjakan dan tentang jasadnya kemana dia pergunakan, makanya hormatilah raga kalian.  Hal berikutnya yaitu waktu yang terkadang kitalalai akannya, siapa yang tahu  contoh dari waktu yang sering di abaikan manusia”?

“Aku bun, contohnya ketika kita sakit maka dalam keadaan seperti itu baru kita merasakan betapa nikmat sehat itu besar sekali artinya seperti dalam sebuah hadits yang mengatakan bahwa ada dua nikmat yang dilalaikan manusia dan manusia tertipu dengan nikmat tersebut yakni nikmat sehat dan waktu luang… gimana betul ga bun” terang kakak dengan gayanya yang sok chibi – chibi.

“Tumben kakak pintar” Jawabku nyeleneh

“Andai semua orang tahu bahwa waktu yang kita miliki adalah nikmat yang sangat besar dan menentukan baik buruk nasib kita dihadapan Allah  kelak, Subhanallah…wah jangan sampai nyesel deh hanya orang – orang yang beriman dan beruntung saja yang pandai menghargai waktu, sekarang pertanyaannya apakah kita termasuk dalam orang – orang yang beriman dan beruntung atau orang – orang yang merugi yang suka melalaikan waktunya?, silahkan jawab sendiri” ungkapku sambil menatap wajah ketiga anakku.

“Rasa sesalmu disaat ruh sudah berada ditenggorokan dan ketika kita sudah ada di alam akhirat adalah penyesalan yang tiada berguna, penyesalan yang tak berujung, penyesalan yang tidak hanya menjadi milik orang – orang kafir saja tetapi juga menjadi milik orang –orang yang mengaku beriman tetapi dalam kehidupannya telah menyia – nyiakan waktu untuk taat dan beribadah kepada Allah Swt, Ibu harap kalian dapat berupaya semaksimal mungkin untuk mengisi waktu dengan sebaik – baiknya dengan amal kebajikan agar kelak kalian menjadi manusia yang beriman dan beruntung serta mendapatkan surge Jannah yang dijanjikan Allah bagi hambanya yang soleh….Amiin “ kataku mengakhiri kultum shalat magrib sambil mengusap wajah ini dengan kedua tangan yang dititipkan Allah kepadaku yang dengan ijinNYA IA berikan kekuatan untuk mengajarkan, mengurus dan mendidik anak – anak kecintaan kami dan kepunyaan Allah Swt Sang Pemberi Waktu.

BIMBING AKU YAA RABB